{"id":1675,"date":"2022-06-23T03:20:02","date_gmt":"2022-06-23T03:20:02","guid":{"rendered":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/?p=1675"},"modified":"2022-06-24T08:00:55","modified_gmt":"2022-06-24T08:00:55","slug":"keunggulan-teknologi-bioflok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/?p=1675","title":{"rendered":"Keunggulan Teknologi Bioflok"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Picture1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1678\"\/><figcaption>(McIntosh, R., 2010.)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Penulis: Ikhsan Pratama, S.Pi, M.Pi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-20-px-font-size\">Teknologi bioflok adalah bentuk budidaya yang dikembangkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada. Diantaranya adalah permasalahan dalam menghemat penggunaan air budidaya, pemberian pakan, pemanfaatan lahan, peningkatan produksi budidaya dan menjadikan aktivitas budidaya yang ramah lingkungan karena tidak memiliki limbah sisa budidaya. Inti dari konsep penerapan teknologi bioflok adalah dengan mendukung siklus nitrogen yang terjadi dalam kolam budidaya dengan meberikan asupan oksigen yang tinggi sehingga koloni bakteri yang menguntungkan dapat berkembang biak dengan baik di dalam air budidaya. Perkembangan dari bakteri tersebut kemudian akan menghasilkan flok (gumpalan) yang dibentuk oleh bakteri dari nitrogen yang berasal dari sisa pakan, feces dan lainnya yang berada di dalam kolam. Dengan berperannya bakteri sebagai penghasil flok dari nitrogen dan limbah budidaya, flok tersebut menghilangkan zat-zat toxic di air sekaligus menjadi pakan tambahan bagi ikan, jadi bioflok mampu menghilangkan limbah budidaya yang mencemari lingkungan sekaligus mengurangi biaya pakan. Berdasarkan hal tersebut, teknologi bioflok menjadi teknologi yang menghasilkan produktiftas produksi tinggi dan ramah lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"964\" height=\"1030\" src=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc-964x1030.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1679\" srcset=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc-964x1030.jpg 964w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc-281x300.jpg 281w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc-768x820.jpg 768w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc-1438x1536.jpg 1438w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc-1404x1500.jpg 1404w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc-660x705.jpg 660w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/biofloc.jpg 1500w\" sizes=\"auto, (max-width: 964px) 100vw, 964px\" \/><figcaption><a href=\"https:\/\/vikaspedia.in\/agriculture\/fisheries\/fish-production\/culture-fisheries\/types-of-aquaculture\/biofloc-fish-culture\" data-type=\"URL\" data-id=\"https:\/\/vikaspedia.in\/agriculture\/fisheries\/fish-production\/culture-fisheries\/types-of-aquaculture\/biofloc-fish-culture\">https:\/\/vikaspedia.in\/agriculture\/fisheries\/fish-production\/culture-fisheries\/types-of-aquaculture\/biofloc-fish-culture<\/a><\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-20-px-font-size\">Flok yang dihasilkan oleh bakteri mengandung protein yang kaya vitamin, sehingga dapat dimanfaatkan ikan sebagai pakan tambahan yang berkualitas baik. Perkembangan pertumbuhan flok dalam air diikuti dengan penigkatan kualitas air budidaya, yang menurunkan knsentrasi nitrogen dalam air yang berpotensi menjadi zat beracun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-20-px-font-size\">Pembudidayaan dengan menggunakan teknologi bioflok meningkatkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknik budidaya biasa. Hal ini dikarenakan, dalam menggunakan teknologi bioflok, kepadatan ikan dapat dimaksimalkan jauh lebih padat dibandingkan dengan teknik budidaya biasanya. Teknologi bioflok dapat menurunkan angka kematian serta meningkatkan pertumbuhan dan laju pertumbuhan pada komoditas budidaya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"602\" height=\"221\" src=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Picture2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1680\" srcset=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Picture2.png 602w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Picture2-300x110.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 602px) 100vw, 602px\" \/><figcaption>Biofloc technology in practice at Waddell Mariculture Center in Bluffton, South Carolina, USA.<br><\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-20-px-font-size\">Selain memberi pakan tambahan bagi ikan dan dapat meningkatkan produktifitas hasil budidaya, keunggulan lain pada teknologi bioflok adalah efektifitas penggunaan air. Dalam teknologi bioflok, penggantian air sangat terbatas bahkan hamper tidak dilakukan sama sekali. Hal ini akibat keberadaan bakteri baik yang mampu mengubah zat-zat toxic menjadi pakan dan meningkatkan kualitas air, sehingga air yang digunakan adalah air dari awal hingga akhir pemeliharaan. Berdasarkan hal itu juga, limbah yang dihasilkan dari budidaya dengan teknologi bioflok, hampir tidak ada, karenanya teknologi bioflok merupakan teknologi yang ramah lingkungan dalam upaya meningkatkan produksi perikanan di Indonesia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Ikhsan Pratama, S.Pi, M.Pi Teknologi bioflok adalah bentuk budidaya yang dikembangkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada. Diantaranya adalah permasalahan dalam menghemat penggunaan air budidaya, pemberian pakan, pemanfaatan lahan, peningkatan produksi budidaya dan menjadikan aktivitas budidaya yang ramah lingkungan karena tidak memiliki limbah sisa budidaya. Inti dari konsep penerapan teknologi bioflok adalah dengan mendukung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[15],"tags":[],"class_list":["post-1675","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-sains-akuakultur"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1675","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1675"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1675\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1719,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1675\/revisions\/1719"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1675"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1675"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1675"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}