{"id":1833,"date":"2022-07-13T13:56:23","date_gmt":"2022-07-13T13:56:23","guid":{"rendered":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/?p=1833"},"modified":"2023-03-07T04:29:11","modified_gmt":"2023-03-07T04:29:11","slug":"green-water-system","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/?p=1833","title":{"rendered":"GREEN WATER SYSTEM"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-fs-16-px-font-size\"><strong>Oleh M. Azharul Rijal (Dosen Akuakultur UMP)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-16-px-font-size\"><strong>Green water system<\/strong> merupakan teknologi air hijau untuk menjaga ke stabilan lingkungan budidaya. Kesetabilan lingkungan budidaya ini diperoleh dari mempertahankan dominansi plankton. Dominansi dari plankton ini akan menjadi kesetabilan air dengan mempertahankan kehidupan plankton dan mikroba yang menguntungkan di dalam sistem budidaya. Jenis plankton yang terdapat pada sistem ini umum nya adalah <em>Chorella sp <\/em>dan <em>Spirulna sp.<\/em><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image is-style-default\"><figure class=\"aligncenter size-gallery\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"845\" height=\"684\" src=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/WhatsApp-Image-2022-07-13-at-10.45.06-845x684.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1830\" srcset=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/WhatsApp-Image-2022-07-13-at-10.45.06-845x684.jpeg 845w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/WhatsApp-Image-2022-07-13-at-10.45.06-495x400.jpeg 495w\" sizes=\"auto, (max-width: 845px) 100vw, 845px\" \/><figcaption>Kolam green water<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-16-px-font-size\">Pemanfaatan dua jenis planton ini pada dasarnya melalui proses fotosistesis yang dilakukan oleh golongan phytoplankton tersebut. Salah satu manfaat dari penggunaan green water sistem adalah mengurangi kadar ammoniak dalam kolam budidaya. Disebutkan dalam sebuah riset, bahwa ada nya kolerasi antara fitoplankton dengan bakteri nitrifikasi pada perairan yang dapat menekan kadar ammnonik pada kolam budidaya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-16-px-font-size\">Kelebihan kadar ammnoniak pada kolam budidaya dapat menyebabkan beberapa kerugian pada proses budidaya. Kerugian tersebut terdapat pada terganggunya sistem kesehatan ikan, dapat memperlambat pertumbuhan, pengurangan kekebalan tubuh terhadap infeksi pathogen dan penyakit, serta konversi yang buruk. Konversi pakan yang buruk ini dapat menyebabkan ikan gagal tumbuh dengan sempurna.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image is-style-default\"><figure class=\"aligncenter size-gallery\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"845\" height=\"440\" src=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/WhatsApp-Image-2022-07-13-at-10.43.23-845x440.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1829\"\/><figcaption>Kolam bundar green water system<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-16-px-font-size\">Permasalah permasalah itu dapat dikurangi dengan penggunaan sistem green water pada kolam budidaya. Penggunaan kolam green water juga digunakan oleh banyak pembudidaya ikan, salah satu contoh nya adalah Purnomo, S.Pi., M.Si. Beliau menuturkan bahwa penggunaan green water sistem ini dapat membantu para pembudidaya Gurami di wilayah Banyumas. Purnomo S.Pi., M.Si menuturkan bahwa proses pemijahan ikan Gurami mengalami sintasan hidup yang besar dapat mencapai 99%. Dari sekitar 3000 telur ikan yang berhasil memijah hanya terdapat 10 telur yang gagal menetas dan terfertilisasi. Selain meningkatkan sintasan telur Gurami, sistem green water milik Purnomo ini mampu menghasilkan pakan alami lain yaitu <em>Moina sp<\/em>. Atau kutu air. Kutu air ini sangat penting untuk proses pendederan post larva. Sebagai bahan pakan alami yang sangat dibutuhkan untuk pakan yang sesuai dengan bukaan mulut. Sistem budidaya green water ini sangat menguntungkan ramah lingkungan dan dapat menjawab tantangan untuk pencegahan permasalahan pemijahan dan pembesaran Gurami di Barlingmascakeb dan Indonesia secara luas pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image is-style-default\"><figure class=\"aligncenter size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"408\" src=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/IMG_9496-1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1096\" srcset=\"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/IMG_9496-1.jpg 720w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/IMG_9496-1-300x170.jpg 300w, https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/wp-content\/uploads\/2021\/07\/IMG_9496-1-705x400.jpg 705w\" sizes=\"auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><figcaption>Purnomo S.Pi., M.Si, alumni S1 Akuakultur UMP<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-16-px-font-size\">Purnomo. S.Pi., M.Si sendiri merupakan alumi Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Beliau sekarang menjadi satgas Pengkajian dan Pengembangan Tekonologi Perikanan di UPT BIAT Kutasari Purbalingga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-fs-16-px-font-size\">Ayo bergabung dengan Prodi Akuakultur FPP UMP mengembangkan budidaya perikanan yang ramah lingkungan dan bertekonologi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh M. Azharul Rijal (Dosen Akuakultur UMP) Green water system merupakan teknologi air hijau untuk menjaga ke stabilan lingkungan budidaya. Kesetabilan lingkungan budidaya ini diperoleh dari mempertahankan dominansi plankton. Dominansi dari plankton ini akan menjadi kesetabilan air dengan mempertahankan kehidupan plankton dan mikroba yang menguntungkan di dalam sistem budidaya. Jenis plankton yang terdapat pada sistem [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1130,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[16,15],"tags":[],"class_list":["post-1833","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-info-akuakultur","category-sains-akuakultur"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1833","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1833"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1833\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1836,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1833\/revisions\/1836"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1833"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1833"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/akuakultur.ump.ac.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1833"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}