Oleh: Suwarsito, S.Pi., M.Si
Seperti telah kita pahami bersama bahwa komponen biaya produksi budidaya ikan yang paling tinggi adalah biaya pakan. Jika pembudidaya ikan mengandalkan pakan ikan buatan pabrik yang harganya semakin tinggi, maka keuntungan dari hasil kegiatan budidaya ikan menjadi semakin rendah. Oleh karena itu, pembudidaya ikan perlu melakukan inovasi membuat pakan ikan berbahan baku lokal dengan memanfaatkan bahan-bahan baku pakan yang terdapat di sekitar kita. Namun, pembuatan pakan ikan tersebut tetap harus memperhatikan kandungan gizi pakan dan kebutuhan nutrisi ikan yang dibudidayakan.
Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto terus mengembangkan teknologi pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal dan mendiseminasikannya kepada masyarakat. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Program Studi Akuakultur adalah mengembangkan software Fuzzy Expert System yang dilakukan Mustafidah dan Suwarsito, merupakan dosen Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Software Fuzzy Expert Systemtersebut merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk menyusun formula pakan ikan berdasarkan kebutuhan nutrisi ikan dan kandungan gizi bahan baku pakan yang digunakan. Selanjutnya, untuk mendiseminasikannya hasil pengembangan software tersebut kepada masyarakat, Program Studi Akuakultur UMP melakukan kegiatan pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal kepada kelompok pembudidaya ikan di Desa Limpakuwus, Kabupaten Banyumas. Kegiatan pelatihan diawali dengan penyusunan formulasi pakan ikan menggunakan Software Fuzzy Expert System. Formulasi pakan yang disusun komposisinya adalah tepung ikan (30%), daging keongmas (20%), jeroan ikan lele (10%), ampas tahu (10%), dedak (10%), daun pepaya dan apon-apon (10%), tepung tulang dan kepala ikan (5%), dan vitamin (5%). Formulasi pakan tersebut disusun berdasarkan kebutuhan nutrisi ikan dimana umumnya ikan membutuhkan protein sekitar 20 – 40%.
Proses Pembuatan Pakan Ikan
Bahan baku pakan tersebut mudah diperoleh dan sebagian besar tersedia di lingkungan sekitar kita. Bahan baku lokal yang digunakan untuk pembuatan pakan adalah tepung ikan, jeroan ikan lele, daging keongmas, ampas tahu, dedak, daun pepaya dan apon-apon, tepung tulang dan kepala ikan. Tepung ikan, jeroan ikan lele, dan daging keong mas dijadikan sumber protein hewani pakan, sedangkan ampas tahu dan dedak dijadikan sumber protein nabati dan karbohidrat pakan. Daun pepaya dan apon-apon digunakan untuk meningkatkan kecernaan pakan. Tepung tulang dan kepala ikan dijadikan sebagai sumber mineral. Masing-masing bahan baku tersebut mengandung nutrisi yang berbeda-beda sehingga akan melengkapi kandungan nutrisi pakan yang dihasilkan.
Tepung ikan yang digunakan berasal dari produk lokal dengan kandungan protein 22,65%, lemak 15,38%, dan serat 1,80% . Keong mas mudah diperoleh dari area persawahan di sekitar kita. Keong mas dapat dijadikan sebagai bahan pakan ikan hingga 30% dalam pakan untuk mensubstitusi penggunaan tepung ikan sebagai sumber protein (Ghufron dan Kordi, 2010). Sedangkan menurut Sanjojo et al. (2014), tepung keong mas dapat digunakan untuk mensubstitusi tepung ikan hingga 50%. Hasil penelitian Dewi (2014) menunjukkan bahwa kandungan nutrisi tepung keong mas adalah protein kasar (56,06%), lemak kasar (6,24%), serat kasar (5,03%) dan BETN 15,16%. Kandungan nutrisi keong mas yang tinggi tersebut sangat potensial sebagai sumber utama protein hewani.

Tepung Ikan
Jeroan ikan lele mengandung protein dan lemak yang cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk bahan baku pakan ikan. Jeroan ikan lele dijadikan sebagai sumber protein hewani dan lemak pakan ikan. Ampas tahu juga dapat digunakan untuk bahan baku pakan ikan sebagai sumber protein nabati dan karbohidrat. Ampas tahu dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan pakan ikan lele dumbo sampai dosis 40% (Suwarsito, 2015). Kandungan nutrisi ampas tahu juga cukup tinggi yaitu protein 23,55%, lemak 5,54%, dan karbohidrat 26,92%. Bahan baku pakan lainnya yang mudah diperoleh adalah dedak. Dedak merupakan bahan pakan yang dapat dijadikan sumber karbohidrat dan protein nabati pakan ikan. Dedak mengandung protein 11,35%, lemak 12,15%, dan karbohidrat 28,62%.
Daun pepaya dan apon-apon juga dapat digunakan sebagai bahan pakan ikan. Tanaman apon-apon banyak dijumpai di areal persawahan yang mengganggu tanaman padi. Daun pepaya dan apon-apon, selain berfungsi sebagai sumber protein nabati, juga berfungsi sebagai sumber karbohidrat dan vitamin. Hasil penelitian Yudhitstira et al. (2015), penggunaan fermentasi daun apon-apon hingga 30% dapat meningkatkan pertumbuhan dan konversi pakan benih ikan Nilem. Bahan pakan yang digunakan sebagai sumber mineral adalah tepung tulang dan kepala ikan lele. Tulang dan kepala ikan lele dihaluskan menjadi tepung. Tepung tulang dan kepala ikan lele mengandung mineral yang tinggi.
Tahap awal pembuatan pakan ikan adalah menghaluskan dan mengayak semua bahan pakan, lalu diramu dan dibuat adonan dengan menambahkan air secukupnya. Selanjutnya adonan pakan dimasukkan ke dalam mesin pencetak pelet ikan untuk dicetak membentuk pelet ikan. Pelet ikan ditampung dalam wadah tampah lalu dijemur di bawah sinar matahari langsung hingga kering. Setelah kering, pelet ikan diremas-remas agar ukuran pakan menjadi pendek-pendek. Pakan ikan yang sudah kering dan berbentuk pelet tersebut siap untuk diberikan pada ikan lele.

Pelet ikan berbahan baku lokal
Hasil kegiatan pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal adalah produk pakan ikan. Kandungan nutrisi pakan ikan yang dihasilkan adalah protein 21,8%, lemak 16,8% dan serat kasar 9,6%. Berdasarkan kandungan protein pakan tersebut telah mencukupi kebutuhan nutrisi ikan pada umumnya dimana kebutuhan minimum protein untuk ikan adalah 20%.

Kemasan pakan ikan berbahan baku lokal




