HILIRISASI BUDIDAYA SISTIM BIOFLOK DI MADRASAH ALIYAH MIFTAHUSSALAM BANYUMAS OLEH DOSEN PROGRAM STUDI AKUAKULTUR UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

Selama ini masalah utama dalam budidaya adalah adanya infeksi penyakit serta menurunnya kualitas air budidaya. Akibatnya pembudidaya merugi dan hal ini bisa menurunkan semangat dalam melakukan budidaya. Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian menggunakan sistim bioflok dan penambahan suplemen  dilakukan dan kemudian hasil riset dilanjutkan dengan kegiatan Pengabdian (IbM).

Sistim bioflok untuk budidaya ikan sudah cukup lama dikenal, namun belum semua pembudidaya mempraktekkannya. Untuk menyebarluaskan sistem atau teknologi bioflok dalam budidaya ikan maka riset terus dilakukan. Hasil riset selanjutnya digunakan untuk pengabdian sebagai kegiatan hilirisasi hasil riset baik di sekolah (IbS) maupun di masyarakat (IbM). Kegiatan IbS telah dilakukan di Madrasah Aliyah (MA) Miftahussalam Banyumas sebagai kegiatas ekstrakurikuler. Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang antusias dari Kepala MA Miftahusalam, yaitu Bapak Drs. Nur Abdullah dan pengasuh kegiatan lapangan Ibu Dini S.Pi. Kegiatan IbS diawali dengan sosialisasi kepada siswa, dilanjutkan dengan praktek pembuatan kolam bundar dan pemeliharaan ikan.

Pada kegiatan praktek, siswa-siswi kelas 11 membuat kolam bundar secara bersama-sama yang didampingi oleh dosen Akuakultur UMP yaitu Sdr. M. Ahzarul Rijal S.Pi., M.Si dan Purnomo S.Pi., M.Si dari UPTD Purbalingga. Sekam disebar pada lantai secara merata dengan menyesuaikan ukuran diameter kolam

Para siswa antusias mempersiapkan sekam untuk dasar kolam bioflok

Setelah sekam selesai disebar pada lantai, kemudian kerangka kolam bulat dibawa untuk ditempatkan diatas sekam (Gambar 4). Setelah terpasang diatas sekam, terpal dirapikan supaya tidak longgar atau terlalu ketat supaya kuat dalam menampung volume air. Pemasangan terpal yang tepat menunjukkan terpal tepat bersandar secara kuat pada masing-masing kawat kerangka. Setelah kolam bulat terpasang dengan baik diatas sekam, kemudian pralon penyaring dan pembuangan air dipasang. Selanjutnya ditambahkan perlengkapan untuk sandaran plastik aerasi dan lainya, kemudian dicoba dengan pengisian air untuk mengetahui adanya kebocoran atau tidak. Kolam bulat yang sudah siap beserta kelengkapanya siap digunakan yang diawali dengan pengisian air.

Pengisian air pada kolam bioflok berbarengan dengan persiapan untuk media bioflok seperti probiotik EM4, molase dan aerasi yang sudah siap. Setelah preparasi selesai, aerasi dihidupkan secara maksimal, kemudian dibiarkan 7-10 hari sambil diamati pembentukan floknya. Setelah terbentuk flok dan warna air menunjukkan pembentukan media flok yang optimal, selanjutnya dilakukan penebaran benih ikan.

Hasil pengamatan menunjukkan, pada hari ke-9 flok sudah terbentuk namun belum optimal. Oleh karena itu penebaran benih gurami tidak dilakukan pada hari ke-9 namun diundur. Setelah media air bioflok optimal baru kemudian dilakukan penebaran benih dengan ukuran 6-8 cm dan diberi pakan pellet ukuran LP1. Selama pemeliharaan benih gurami, siswa memberi pakan 2x dalam sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Siswa juga mengukur pertumbuhan ikan dengan cara menimbang berat dan mengukur pertambahan panjang serta mengamati tingkah laku, respon terhadap pakan dan gerakannya. Hilirisasi IbS ini didanai oleh Universitas Muhammadiyah Purwokerto melalui LPPM.

Penebaran benih gurami pada kolam bioflok
0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *