GREEN WATER SYSTEM

Oleh M. Azharul Rijal (Dosen Akuakultur UMP)

Green water system merupakan teknologi air hijau untuk menjaga ke stabilan lingkungan budidaya. Kesetabilan lingkungan budidaya ini diperoleh dari mempertahankan dominansi plankton. Dominansi dari plankton ini akan menjadi kesetabilan air dengan mempertahankan kehidupan plankton dan mikroba yang menguntungkan di dalam sistem budidaya. Jenis plankton yang terdapat pada sistem ini umum nya adalah Chorella sp dan Spirulna sp.

Pemanfaatan dua jenis planton ini pada dasarnya melalui proses fotosistesis yang dilakukan oleh golongan phytoplankton tersebut. Salah satu manfaat dari penggunaan green water sistem adalah mengurangi kadar ammoniak dalam kolam budidaya. Disebutkan dalam sebuah riset, bahwa ada nya kolerasi antara fitoplankton dengan bakteri nitrifikasi pada perairan yang dapat menekan kadar ammnonik pada kolam budidaya.

Kelebihan kadar ammnoniak pada kolam budidaya dapat menyebabkan beberapa kerugian pada proses budidaya. Kerugian tersebut terdapat pada terganggunya sistem kesehatan ikan, dapat memperlambat pertumbuhan, pengurangan kekebalan tubuh terhadap infeksi pathogen dan penyakit, serta konversi yang buruk. Konversi pakan yang buruk ini dapat menyebabkan ikan gagal tumbuh dengan sempurna.

Permasalah permasalah itu dapat dikurangi dengan penggunaan sistem green water pada kolam budidaya. Penggunaan kolam green water juga digunakan oleh banyak pembudidaya ikan, salah satu contoh nya adalah Purnomo, S.Pi., M.Si. Beliau menuturkan bahwa penggunaan green water sistem ini dapat membantu para pembudidaya Gurami di wilayah Banyumas. Purnomo S.Pi., M.Si menuturkan bahwa proses pemijahan ikan Gurami mengalami sintasan hidup yang besar dapat mencapai 99%. Dari sekitar 3000 telur ikan yang berhasil memijah hanya terdapat 10 telur yang gagal menetas dan terfertilisasi. Selain meningkatkan sintasan telur Gurami, sistem green water milik Purnomo ini mampu menghasilkan pakan alami lain yaitu Moina sp. Atau kutu air. Kutu air ini sangat penting untuk proses pendederan post larva. Sebagai bahan pakan alami yang sangat dibutuhkan untuk pakan yang sesuai dengan bukaan mulut. Sistem budidaya green water ini sangat menguntungkan ramah lingkungan dan dapat menjawab tantangan untuk pencegahan permasalahan pemijahan dan pembesaran Gurami di Barlingmascakeb dan Indonesia secara luas pungkasnya.

Purnomo S.Pi., M.Si, alumni S1 Akuakultur UMP

Purnomo. S.Pi., M.Si sendiri merupakan alumi Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Beliau sekarang menjadi satgas Pengkajian dan Pengembangan Tekonologi Perikanan di UPT BIAT Kutasari Purbalingga.

Ayo bergabung dengan Prodi Akuakultur FPP UMP mengembangkan budidaya perikanan yang ramah lingkungan dan bertekonologi.

Strategi Pemasaran Produk Perikanan

Oleh: Dr. Ade Rusman

Karena pemasaran adalah salah satu hal sulit yang paling penting yang harus ditangani oleh produsen dan petani ikan, perlu untuk mengembangkan strategi pemasaran yang berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi mereka. Menurut Tim PPM Universitas Negeri Yogyakarta ( 2010), ada beberapa persyaratan dasar minimum dalam mengembangkan strategi pemasaran yang sesuai, sebagai berikut:

  1. Strategi umum

Strategi umum yang digunakan adalah strategi bauran pemasaran yang dapat dijelaskan sebagai berikut :

a.  Strategi Produk Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan strategi produk, yaitu: Pemilihan indukan yang baik; Jujur menyebutkan asal usul bibit; Panen dilakukan dengan mengikuti prosedur pemindahan kolam yang benar.

b. Strategi Harga Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan strategi harga, yaitu: Mengetahui harga pasaran yang berlaku (dapat diketahui dari cek langsung di pasaran atau melalui internet); Bekerjasama dengan petani lain untuk menjaga harga pasar.

c. Strategi Distribusi Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan strategi distribusi, yaitu: – Menyediakan produk kepada konsumen pada tempat yang tepat, kualitas yang tepat dan jumlah yang tepat; Agar memiliki daya tawar yang tinggi, petani sebaiknya saling bekerjasama menyediakan stok yang memadai;  Sistem pengepakan dan pengiriman yang baik misal gunakan kantong plastik yang cukup besar 20-100 liter, pompakan oksigen hingga 2/3 plastik, perlu membuka plastik secara berkala, kendarai mobil jangan terlalu kencang.

d. Strategi Promosi Hal-hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan strategi promosi, yaitu: Jaringan petani – Iklan koran – Iklan internet – Jual beli melalui internet.

2. Strategi khusus

Produk perikanan dapat dibedakan yaitu produk benih ikan dan produk ikan konsumsi. Berikut ini diuraikan strategi khusus masing – masing produk perikanan tersebut.

  1. Strategi Pemasaran Benih Ikan, yaitu:
  • Pemeliharaan induk yang baik dan sehat

Keberhasilan produksi benih ikan kualitas terletak pada pemeliharaan induk yang sehat. Hal ini juga diperlukan untuk meningkatkan stok induk ikan dengan dengan pengisian berkala sehingga memperkecil kemungkinan perkawinan sedarah. Perlu juga melibatkan peneliti dari universitas, para ahli dan departemen perikanan untuk memeriksa unit produksi agar efek negatif berkurang.

  • Jaringan Peternak Kecil Tanpa infrastruktur dan sumber daya dasar, sebagian besar peternak kecil akan tergantung pada penetasan yang lebih besar. Oleh karena itu perlu membangun jaringan pemasaran di wilayah tertentu. Unit kerja kecil dengan biaya rendah- sangat disarankan. Strategi ini akan membantu kualitas produksi dan pemasaran benih ikan.
  • Unit Perawatan

Di pusat-pusat produksi benih ikan, kolam pembibitan memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas Kunci keberhasilannya adalah pembuatan unit produksi berdasarkan pengetahuan ilmiah. Unit yang dibangun harus disesuaikan dengan total jumlah benih ikan diproduksi. Jika peternak kecil tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk mengelola satu set unit pembibitan, benih dapat ditetaskan dipeternakan besar terdekat yang memiliki tempat penetasan. Koordinasi yang baik antara pemerintah dan peternak mutlak diperlukan untuk mempermudah proses ini.

  • Pengembangan unit tambahan

Beberapa perlengkapan pendukung seperti bahan kemasan (kantong polythene), silinder oksigen, peternakan & peralatan penetasan dan lain-lain pada waktu diperlukan.

  • Pembentukan kelompok pemasaran terlatih

Sistem pengepakan benih yang tidak Ilmiah (sembarangan) dan penanganan benih ikan ceroboh sering mengakibatkan kematian yang tinggi dalam transportasi dan penjualan. Oleh karena itu pelatihan penjualan ikan yang diselenggarakan oleh para ahli perlu diikuti agar penjualan tidak mengakibatkan kematian benih itu sendiri.

  • Fasilitas Transportasi

Gunakan transportasi yang efisien dan aman agar benih ikan tidak mendapat cedera selama transportasi. Banyak petani banyak menggunakan metode tradisional dalam mengangkut benih ikan sehingga tingkat kematian ikan di perjalanan sangat tinggi oleh karena petani perlu mencari informasi yang ilmiah dari lembaga penelitian, universitas dan departemen perikanan.

  • Bekerjasama dengan lembaga keuangan

Sangat dianjurkan untuk bekerjasama dengan lembaga keuangan untuk mendapatkan modal. Jika petani kesulitan mengakses lembaga keuangan formal, jaringan petani dapat dimanfaatkan untuk membentuk koperasi.

  • Pelatihan dan jaringan ekstensi

Program pelatihan yang ekstensif diperlukan untuk mendidik para petani untuk menerapkan prosedur ilmiah dan benar dalam produksi dan pemasaran benih ikan. Ini juga akan memerlukan korelasi antara produsen biji benih dan petani, strategi pemasaran yang efektif dan adopsi praktek-praktek budaya ilmiah. Persilangan bibit dapat bekerja sama dengan para ilmuwan, lembaga penelitian,dan lain-lain.

b. Strategi Pemasaran Ikan Konsumsi

  • Pilih rantai pemasaran yang paling dekat dengan konsumen

Akhir Jalur penjualan ikan yang lazim dilalui adalah pengepul, pedagang besar, pengecer dan konsumen. Rantai ini sebenarnya terlalu panjang sehingga petani mendapatkan pertambahan nilai yang sangat kecil (bahkan paling kecil diantara pihak lain). Oleh karena itu untuk meningkatkan keuntungan, petani sebaiknya memilih rantai distribusi yang terpendek.

  • Buatlah jaringan petani ikan

Jaringan ini sangat berguna baik untuk mendapatkan informasi pada saat pembesaran ikan, penentuan harga jual yang sepandan, bahkan bekerjasama menciptakan rantai distribusi yang paling pendek. Jika jaringan petani bekerja dengan baik, maka kelompok tani dapat langsung bekerjasama dengan restoran atau supermarket /swalayan sehingga rantai distribusi sangat pendek. Jaringan juga dapat diperluas dengan mengikuti program- program yang diselenggarakan oleh Departemen Perikanan, Departemen Perdagangan, kelompok masyarakat sipil (Universitas/LSM).

  • Pengiriman ikan Pada fase ini tingkat kematian sangat tinggi.

Berkonsultasi pada pihak yang berkompeten seperti para peneliti dari universitas, departemen perikanan.

  • Pertahankan harga Jika sedang panen raya, usahakan menjual produk ikan olahan (bakso ikan, abon, dan sebagainya) untuk mempertahankan harga jual ikan dan meningkatkan keuntungan peternakan ikan.

Ciri Pemasaran Hasil Perikanan

kompas.com

Penulis: Dr. Ade Rusman

Pemasaran hasil perikanan mempunyai sejumlah ciri, diantaranya adalah (Hanafiah dan Saefuddin, 1986) :

  1. Sebagian besar dari hasil perikanan berupa bahan makanan yang dipasarkan diserap oleh konsumen akhir secara relatif stabil sepanjang tahun, sedangkan penawarannya sangat tergantung kepada produksi yang sangat dipengaruhi oleh iklim.
  2. Pada umumnya pedagang pengumpul memberi kredit (advanced payment) kepada produsen sebagai ikatan atau jaminan untuk dapat memperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu.
  3. Saluran pemasaran hasil perikanan umumnya terdiri dari produsen (petani ikan), pedagang perantara sebagai pengumpul, grosir (wholesaler), pedagang eceran, dan konsumen (industri pengolahan atau konsumen akhir).
  4. Pergerakan hasil perikanan berupa bahan makanan dari produsen sampai konsumen pada umumnya meliputi proses pengumpulan, pengimbangan, dan penyebaran, dimana proses pengumpulan merupakan proses yang terpenting.
  5. Kedudukan terpenting dalam pemasaran hasil perikanan terletak pada pedagang pengumpul karena berhubungan dengan fungsinya sebagai pengumpul dari daerah produksi yang terpencar-pencar, skala produksi kecilkecil, dan produksinya bersifat musiman.
fimela.com

Pengelolaan Produk Perikanan Merujuk pada norma atau kaidah-kaidah pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab yang dinyatakan bahwa pengelolaan perikanan adalah proses yang terintegrasi mulai dari pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pengambilan keputusan, alokasi sumberdaya, formulasi dan implementasi, disertai dengan pengamanan seperlunya terhadap peraturan yang berlaku demi menjaga kelangsungan produksi dan pencapaian tujuan pengelolaan lainnya (FAO dalam Murti 2000). Pengelolaan perikanan tersebut secara internasional harus mengacu pada prinsip-prinsip pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab (The Code of Conduct Responsible Fisheries/CCRF). Beberapa aspek pengelolaan yang perlu diperhatikan dilihat dari beberapa aspek adalah biologi dan lingkungan (keterbatasan sumberdaya, faktor lingkungan dan pertimbangan keragaman hayati dan aspek ekologi lainnya), teknologi (alat penangkapan dan alat bantu penangkapan, kapal, pasca panen), sosio-ekonomi, aspek kelembagaan, hukum, jangka waktu dan pendekatan kehati-hatian. Komponen pokok dalam pengelolaan data dan informasi (data yang benar dan tepat waktu), kerangka kelembagaan dan hukum meliputi otoritas pengelolaan (termasuk MCS=Monitoring, Controlling and Surveillance), hukum yang mendukungnya dan pihak yang berkepentingan (stakeholders). Dengan demikian manajemen pemasaran produk perikanan yang bertanggung jawab, aspek yang perlu diperhatikan juga sama yaitu sosial, ekonomi dan ekologi.

STRATEGI PEMASARAN HASIL PERIKANAN: SEBUAH PENGANTAR

Oleh: Ade Rusman

Hasil produksi perikanan dapat dikelompokan  ke dalam dua kelompok besar, yaitu bahan mentah dan bahan konsumsi. Sebagai bahan mentah produksi perikanan dapat dibeli oleh produsen (pabrik atau usaha pengolahan untuk diolah menjadi barang jadi, misalnya ikan kalengan, aneka ikan olahan, tepung ikan, dan sebagainya). Sebagai bahan konsumsi akan dibeli oleh konsumen akhir (household consumer, restoran, dll). Produk perikanan dan kelautan termasuk barang yang mudah rusak (perishable good), maka sangat memerlukan strategi pemasaran yang berbeda dengan produk barang maupun jasa pada umumnya.

Persepsi atau image masyarakat terhadap produk-produk perikanan berbeda-beda atau sangat beragam dibandingkan dengan produk lain pada umumnya, antara lain: jika makan ikan alergi, ikan baunya amis, ikan banyak durinya, ikan mahal harganya, ikan rumit memasaknya, ikan hanya bisa atau paling enak digoreng. Image masyarakat terhada produk perikanan masih demikian kurang bagus, maka diperlukan  strategi pemasaran yang dapat merubah image tersebut, sehingga kendala pemasaran produk perikanan dan kelautan dapat diatasi.

Pemasaran adalah sangat penting dalam semua kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa. Pemasaran berasal dari kata pasar dimana pengertian pasar merupakan tempat terjadinya transaksi jual beli dengan pembeli dan penjual. Di dalam pasar terdapat pasar kongkrit dan pasar abstrak. Pasar kongkrit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran barang berkumpul dan bertemu (contoh, pasar benih ikan), sedangkan pasar abstrak keseluruhan permintaan dan penawaran yang berhubungan satu sama lain.

Menurut Kotler (2002) pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.

Berdasarkan definisi tersebut, proses pemasarn dimulai dari menemukan apa yang diinginkan konsumen. Semua ini tidak terlepas dari konsep marketing yang paling besar,  yaitu berusaha memproduksi produk/jasa untuk memenuhi selera konsumen (value based), baik yang bersifat Tangible maupun intangible.

Dalam pemasaran hasil perikanan, perlu diperhatikan ciri-ciri dari produk perikanan yaitu (Hanafiah dan Saefuddin, 1986; Abidin, Harahab dan Asmarawati, 2021):

  1. Produk perikanan bersifat musiman. Produksi hasil perikanan hanya dapat dihasilkan pada musim-musim tertentu, jauh berbeda dengan produk-produk industri yang dapat dihasilkan setiap waktu. Tetapi sekarang dengan teknologi yang baru sudah mulai dikembangkan usaha-usaha produksi dengan harapan hasilnya akan mampu memenuhi permintaan konsumen. Salah satu usaha peningkatan produksi di bidang perikanan adalah usaha budidaya seperti peternakan dan pembesaran ikan.
  2. Produk perikanan tidak bisa dihasilkan di sembarang tempat. Produk hasil perikanan hanya dihasilkan di daerah-daerah yang berhubungan dengan wilayah perairan, baik perairan laut maupun perairan darat. Produksi yang dilakukan oleh nelayan dan petani ikan terpencar di daerah-daerah dimana perairan, tanah dan iklimnya memberi kemungkinan cocok untuk berproduksi dan kadang-kadang lokasinya sangat jauh dari pusat-pusat konsumsi atau pasar. Dengan tidak dapat diproduksi disembarang tempat, maka diperlukan juga aktifitas pengangkutan dan pendistribusian yang tepat untuk mengantarkan produk perikanan dari daerah produsen ke daerah konsumen.
  3. Produk perikanan bersifat segar dan mudah rusak. Kesegaran produk perikanan yang dihasilkan nelayan atau petani ikan biasanya tidak dapat bertahan lama setelah ditangkap, hal itu mengakibatkan produk tersebut harus dijual secepatnya. Apabila terjadi keterlambatan dalam penanganan produk segar ini, maka akan menurunkan kualitas dan mutu sehingga dikhawatirkan harganya pun akan menjadi turun. Dengan sifat mudah rusak, maka perlu menjadi perhatian yang serius baik nelayan maupun lembaga-lembaga pemasaran yang ikut terlibat didalamnya.
  4. Jumlah atau kualitas hasil perikanan dapat berubah-ubah. Jumlah dan kualitas dari hasil perikanan tidak selalu tetap, tetapi berubah-ubah dari tahun ke tahun. Ada tahun-tahun dengan jumlah dan kualitas hasil perikanan baik dan ada pula tahun-tahun dengan jumlah dan kualitas hasil perikanan merosot, karena sangat tergantung pada keadaan cuaca serta kondisi perairan.
  5. Produk perikanan merupakan bahan dasar. Berbagai produk perikanan sebagian besar merupakan bahan dasar, yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Berbagai usaha untuk memperoleh nilai tambah dapat dilakukan, apalagi jika dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja misalnya dalam bentuk agroindustri perikanan dengan pertimbangan mana yang lebih menguntungkan dan mempunyai prospek pasar yang lebih baik. Pemasaran hasil perikanan meliputi berbagai aktivitas yang dilakukan mulai dari pengadaan sarana produksi, produksi, pengolahan pasca panen serta bagaimana pemasaran bisa dilakukan. Tanpa kegiatan pemasaran maka produk perikanan yang dihasilkan akan menjadi barang yang tidak bermanfaat.

Keunggulan Teknologi Bioflok

(McIntosh, R., 2010.)

Penulis: Ikhsan Pratama, S.Pi, M.Pi

Teknologi bioflok adalah bentuk budidaya yang dikembangkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada. Diantaranya adalah permasalahan dalam menghemat penggunaan air budidaya, pemberian pakan, pemanfaatan lahan, peningkatan produksi budidaya dan menjadikan aktivitas budidaya yang ramah lingkungan karena tidak memiliki limbah sisa budidaya. Inti dari konsep penerapan teknologi bioflok adalah dengan mendukung siklus nitrogen yang terjadi dalam kolam budidaya dengan meberikan asupan oksigen yang tinggi sehingga koloni bakteri yang menguntungkan dapat berkembang biak dengan baik di dalam air budidaya. Perkembangan dari bakteri tersebut kemudian akan menghasilkan flok (gumpalan) yang dibentuk oleh bakteri dari nitrogen yang berasal dari sisa pakan, feces dan lainnya yang berada di dalam kolam. Dengan berperannya bakteri sebagai penghasil flok dari nitrogen dan limbah budidaya, flok tersebut menghilangkan zat-zat toxic di air sekaligus menjadi pakan tambahan bagi ikan, jadi bioflok mampu menghilangkan limbah budidaya yang mencemari lingkungan sekaligus mengurangi biaya pakan. Berdasarkan hal tersebut, teknologi bioflok menjadi teknologi yang menghasilkan produktiftas produksi tinggi dan ramah lingkungan.

Flok yang dihasilkan oleh bakteri mengandung protein yang kaya vitamin, sehingga dapat dimanfaatkan ikan sebagai pakan tambahan yang berkualitas baik. Perkembangan pertumbuhan flok dalam air diikuti dengan penigkatan kualitas air budidaya, yang menurunkan knsentrasi nitrogen dalam air yang berpotensi menjadi zat beracun.

Pembudidayaan dengan menggunakan teknologi bioflok meningkatkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknik budidaya biasa. Hal ini dikarenakan, dalam menggunakan teknologi bioflok, kepadatan ikan dapat dimaksimalkan jauh lebih padat dibandingkan dengan teknik budidaya biasanya. Teknologi bioflok dapat menurunkan angka kematian serta meningkatkan pertumbuhan dan laju pertumbuhan pada komoditas budidaya.

Biofloc technology in practice at Waddell Mariculture Center in Bluffton, South Carolina, USA.

Selain memberi pakan tambahan bagi ikan dan dapat meningkatkan produktifitas hasil budidaya, keunggulan lain pada teknologi bioflok adalah efektifitas penggunaan air. Dalam teknologi bioflok, penggantian air sangat terbatas bahkan hamper tidak dilakukan sama sekali. Hal ini akibat keberadaan bakteri baik yang mampu mengubah zat-zat toxic menjadi pakan dan meningkatkan kualitas air, sehingga air yang digunakan adalah air dari awal hingga akhir pemeliharaan. Berdasarkan hal itu juga, limbah yang dihasilkan dari budidaya dengan teknologi bioflok, hampir tidak ada, karenanya teknologi bioflok merupakan teknologi yang ramah lingkungan dalam upaya meningkatkan produksi perikanan di Indonesia.