Ciri Pemasaran Hasil Perikanan

kompas.com

Penulis: Dr. Ade Rusman

Pemasaran hasil perikanan mempunyai sejumlah ciri, diantaranya adalah (Hanafiah dan Saefuddin, 1986) :

  1. Sebagian besar dari hasil perikanan berupa bahan makanan yang dipasarkan diserap oleh konsumen akhir secara relatif stabil sepanjang tahun, sedangkan penawarannya sangat tergantung kepada produksi yang sangat dipengaruhi oleh iklim.
  2. Pada umumnya pedagang pengumpul memberi kredit (advanced payment) kepada produsen sebagai ikatan atau jaminan untuk dapat memperoleh bagian terbesar dari hasil perikanan dalam waktu tertentu.
  3. Saluran pemasaran hasil perikanan umumnya terdiri dari produsen (petani ikan), pedagang perantara sebagai pengumpul, grosir (wholesaler), pedagang eceran, dan konsumen (industri pengolahan atau konsumen akhir).
  4. Pergerakan hasil perikanan berupa bahan makanan dari produsen sampai konsumen pada umumnya meliputi proses pengumpulan, pengimbangan, dan penyebaran, dimana proses pengumpulan merupakan proses yang terpenting.
  5. Kedudukan terpenting dalam pemasaran hasil perikanan terletak pada pedagang pengumpul karena berhubungan dengan fungsinya sebagai pengumpul dari daerah produksi yang terpencar-pencar, skala produksi kecilkecil, dan produksinya bersifat musiman.
fimela.com

Pengelolaan Produk Perikanan Merujuk pada norma atau kaidah-kaidah pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab yang dinyatakan bahwa pengelolaan perikanan adalah proses yang terintegrasi mulai dari pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pengambilan keputusan, alokasi sumberdaya, formulasi dan implementasi, disertai dengan pengamanan seperlunya terhadap peraturan yang berlaku demi menjaga kelangsungan produksi dan pencapaian tujuan pengelolaan lainnya (FAO dalam Murti 2000). Pengelolaan perikanan tersebut secara internasional harus mengacu pada prinsip-prinsip pengelolaan perikanan yang bertanggung jawab (The Code of Conduct Responsible Fisheries/CCRF). Beberapa aspek pengelolaan yang perlu diperhatikan dilihat dari beberapa aspek adalah biologi dan lingkungan (keterbatasan sumberdaya, faktor lingkungan dan pertimbangan keragaman hayati dan aspek ekologi lainnya), teknologi (alat penangkapan dan alat bantu penangkapan, kapal, pasca panen), sosio-ekonomi, aspek kelembagaan, hukum, jangka waktu dan pendekatan kehati-hatian. Komponen pokok dalam pengelolaan data dan informasi (data yang benar dan tepat waktu), kerangka kelembagaan dan hukum meliputi otoritas pengelolaan (termasuk MCS=Monitoring, Controlling and Surveillance), hukum yang mendukungnya dan pihak yang berkepentingan (stakeholders). Dengan demikian manajemen pemasaran produk perikanan yang bertanggung jawab, aspek yang perlu diperhatikan juga sama yaitu sosial, ekonomi dan ekologi.

STRATEGI PEMASARAN HASIL PERIKANAN: SEBUAH PENGANTAR

Oleh: Ade Rusman

Hasil produksi perikanan dapat dikelompokan  ke dalam dua kelompok besar, yaitu bahan mentah dan bahan konsumsi. Sebagai bahan mentah produksi perikanan dapat dibeli oleh produsen (pabrik atau usaha pengolahan untuk diolah menjadi barang jadi, misalnya ikan kalengan, aneka ikan olahan, tepung ikan, dan sebagainya). Sebagai bahan konsumsi akan dibeli oleh konsumen akhir (household consumer, restoran, dll). Produk perikanan dan kelautan termasuk barang yang mudah rusak (perishable good), maka sangat memerlukan strategi pemasaran yang berbeda dengan produk barang maupun jasa pada umumnya.

Persepsi atau image masyarakat terhadap produk-produk perikanan berbeda-beda atau sangat beragam dibandingkan dengan produk lain pada umumnya, antara lain: jika makan ikan alergi, ikan baunya amis, ikan banyak durinya, ikan mahal harganya, ikan rumit memasaknya, ikan hanya bisa atau paling enak digoreng. Image masyarakat terhada produk perikanan masih demikian kurang bagus, maka diperlukan  strategi pemasaran yang dapat merubah image tersebut, sehingga kendala pemasaran produk perikanan dan kelautan dapat diatasi.

Pemasaran adalah sangat penting dalam semua kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa. Pemasaran berasal dari kata pasar dimana pengertian pasar merupakan tempat terjadinya transaksi jual beli dengan pembeli dan penjual. Di dalam pasar terdapat pasar kongkrit dan pasar abstrak. Pasar kongkrit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran barang berkumpul dan bertemu (contoh, pasar benih ikan), sedangkan pasar abstrak keseluruhan permintaan dan penawaran yang berhubungan satu sama lain.

Menurut Kotler (2002) pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.

Berdasarkan definisi tersebut, proses pemasarn dimulai dari menemukan apa yang diinginkan konsumen. Semua ini tidak terlepas dari konsep marketing yang paling besar,  yaitu berusaha memproduksi produk/jasa untuk memenuhi selera konsumen (value based), baik yang bersifat Tangible maupun intangible.

Dalam pemasaran hasil perikanan, perlu diperhatikan ciri-ciri dari produk perikanan yaitu (Hanafiah dan Saefuddin, 1986; Abidin, Harahab dan Asmarawati, 2021):

  1. Produk perikanan bersifat musiman. Produksi hasil perikanan hanya dapat dihasilkan pada musim-musim tertentu, jauh berbeda dengan produk-produk industri yang dapat dihasilkan setiap waktu. Tetapi sekarang dengan teknologi yang baru sudah mulai dikembangkan usaha-usaha produksi dengan harapan hasilnya akan mampu memenuhi permintaan konsumen. Salah satu usaha peningkatan produksi di bidang perikanan adalah usaha budidaya seperti peternakan dan pembesaran ikan.
  2. Produk perikanan tidak bisa dihasilkan di sembarang tempat. Produk hasil perikanan hanya dihasilkan di daerah-daerah yang berhubungan dengan wilayah perairan, baik perairan laut maupun perairan darat. Produksi yang dilakukan oleh nelayan dan petani ikan terpencar di daerah-daerah dimana perairan, tanah dan iklimnya memberi kemungkinan cocok untuk berproduksi dan kadang-kadang lokasinya sangat jauh dari pusat-pusat konsumsi atau pasar. Dengan tidak dapat diproduksi disembarang tempat, maka diperlukan juga aktifitas pengangkutan dan pendistribusian yang tepat untuk mengantarkan produk perikanan dari daerah produsen ke daerah konsumen.
  3. Produk perikanan bersifat segar dan mudah rusak. Kesegaran produk perikanan yang dihasilkan nelayan atau petani ikan biasanya tidak dapat bertahan lama setelah ditangkap, hal itu mengakibatkan produk tersebut harus dijual secepatnya. Apabila terjadi keterlambatan dalam penanganan produk segar ini, maka akan menurunkan kualitas dan mutu sehingga dikhawatirkan harganya pun akan menjadi turun. Dengan sifat mudah rusak, maka perlu menjadi perhatian yang serius baik nelayan maupun lembaga-lembaga pemasaran yang ikut terlibat didalamnya.
  4. Jumlah atau kualitas hasil perikanan dapat berubah-ubah. Jumlah dan kualitas dari hasil perikanan tidak selalu tetap, tetapi berubah-ubah dari tahun ke tahun. Ada tahun-tahun dengan jumlah dan kualitas hasil perikanan baik dan ada pula tahun-tahun dengan jumlah dan kualitas hasil perikanan merosot, karena sangat tergantung pada keadaan cuaca serta kondisi perairan.
  5. Produk perikanan merupakan bahan dasar. Berbagai produk perikanan sebagian besar merupakan bahan dasar, yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Berbagai usaha untuk memperoleh nilai tambah dapat dilakukan, apalagi jika dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja misalnya dalam bentuk agroindustri perikanan dengan pertimbangan mana yang lebih menguntungkan dan mempunyai prospek pasar yang lebih baik. Pemasaran hasil perikanan meliputi berbagai aktivitas yang dilakukan mulai dari pengadaan sarana produksi, produksi, pengolahan pasca panen serta bagaimana pemasaran bisa dilakukan. Tanpa kegiatan pemasaran maka produk perikanan yang dihasilkan akan menjadi barang yang tidak bermanfaat.

Keunggulan Teknologi Bioflok

(McIntosh, R., 2010.)

Penulis: Ikhsan Pratama, S.Pi, M.Pi

Teknologi bioflok adalah bentuk budidaya yang dikembangkan untuk menjawab berbagai permasalahan yang ada. Diantaranya adalah permasalahan dalam menghemat penggunaan air budidaya, pemberian pakan, pemanfaatan lahan, peningkatan produksi budidaya dan menjadikan aktivitas budidaya yang ramah lingkungan karena tidak memiliki limbah sisa budidaya. Inti dari konsep penerapan teknologi bioflok adalah dengan mendukung siklus nitrogen yang terjadi dalam kolam budidaya dengan meberikan asupan oksigen yang tinggi sehingga koloni bakteri yang menguntungkan dapat berkembang biak dengan baik di dalam air budidaya. Perkembangan dari bakteri tersebut kemudian akan menghasilkan flok (gumpalan) yang dibentuk oleh bakteri dari nitrogen yang berasal dari sisa pakan, feces dan lainnya yang berada di dalam kolam. Dengan berperannya bakteri sebagai penghasil flok dari nitrogen dan limbah budidaya, flok tersebut menghilangkan zat-zat toxic di air sekaligus menjadi pakan tambahan bagi ikan, jadi bioflok mampu menghilangkan limbah budidaya yang mencemari lingkungan sekaligus mengurangi biaya pakan. Berdasarkan hal tersebut, teknologi bioflok menjadi teknologi yang menghasilkan produktiftas produksi tinggi dan ramah lingkungan.

Flok yang dihasilkan oleh bakteri mengandung protein yang kaya vitamin, sehingga dapat dimanfaatkan ikan sebagai pakan tambahan yang berkualitas baik. Perkembangan pertumbuhan flok dalam air diikuti dengan penigkatan kualitas air budidaya, yang menurunkan knsentrasi nitrogen dalam air yang berpotensi menjadi zat beracun.

Pembudidayaan dengan menggunakan teknologi bioflok meningkatkan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknik budidaya biasa. Hal ini dikarenakan, dalam menggunakan teknologi bioflok, kepadatan ikan dapat dimaksimalkan jauh lebih padat dibandingkan dengan teknik budidaya biasanya. Teknologi bioflok dapat menurunkan angka kematian serta meningkatkan pertumbuhan dan laju pertumbuhan pada komoditas budidaya.

Biofloc technology in practice at Waddell Mariculture Center in Bluffton, South Carolina, USA.

Selain memberi pakan tambahan bagi ikan dan dapat meningkatkan produktifitas hasil budidaya, keunggulan lain pada teknologi bioflok adalah efektifitas penggunaan air. Dalam teknologi bioflok, penggantian air sangat terbatas bahkan hamper tidak dilakukan sama sekali. Hal ini akibat keberadaan bakteri baik yang mampu mengubah zat-zat toxic menjadi pakan dan meningkatkan kualitas air, sehingga air yang digunakan adalah air dari awal hingga akhir pemeliharaan. Berdasarkan hal itu juga, limbah yang dihasilkan dari budidaya dengan teknologi bioflok, hampir tidak ada, karenanya teknologi bioflok merupakan teknologi yang ramah lingkungan dalam upaya meningkatkan produksi perikanan di Indonesia.

Mahasiswa S1 Akuakultur UMP Bisa Magang dan Penelitian Di BBRBLPP Gondol: 1 dari 2 Tempat Pembenihan dan Pembesaran Tuna Sirip Kuning yang Berhasil di Dunia